iklan

WELCOME TO MY BLOG

Kamis, 05 Agustus 2010

Perbedaan tentang bitmap Graphic dan Vector Graphic

Vector vs Bitmaps Graphic
Apa itu vektor? apa juga bitmap? baiklah simak tutorial yang satu ini. Grafis dalam dunia komputer dibagi menjadi 2 kategori. Sebagai seorang yang belajar desain grafis maka kita harus memahami perbedaan diantara keduanya.

Bitmap image
Bitmap image merupakan kategori grafik kaya warna dan tersusun dai pixel-pixel yang kita sebut sebagai resolusi. File gambar dengan resolusi lebih jernih maka memiliki ukuran file yang jauh lebih besar juga, Bitmap sudah mendukung 32 bits colours.
Sebagai contoh kalian coba lihat gambar di bawah ini:

Penjelasan:
Gambar di atas adalah gambar kategori bitmap. Pada saat kita akan menyeleksi dengan meperbesar menjadi 3x zoom [3:1] maka gambar tersebut akan sedikit pecah karena
pixel - pixel pada gambar tersebut tidak dapat mengikuti sehingga terjadi ruang diantara pixel dan kerapatan warna menjadi berkurang. yang lebih mengecewakan adalah pada saat kita memperbesar dengan skala [24:1] gambarnya menjadi hancur dan kotak - kotak. Fiuh menggelikan... maksud saya mengerikan...

Tapi di balik semua kekurangan selalu ada kelebihan...
Gambar kategori bitmap lebih jernih dan lebih realistis dari gambar vektor

Vektor image
Vektor image merupakan gambar yang tersusun dari garis - garis lurus maupun lengkung yang tersusun secara matematis dan bisa disebut juga sebagai vektor - vektor. Sebagai contoh adalah jika kita membuat sebuah roda maka yang kita perlukan adalah lingkaran dengan posisi yang sistematis, maksudnya adalah lingkaran tersebut mempunyai lokasi radius maupun pemilihan warna yang tepat.

Sebagai contoh lihat gambar di bawah ini

Penjelasan:
Wah mirip sepeda saya waktu SD.
Ok, waktunya serius lagi. Gambar di atas disebut gambar vektor karena tersusun dari garis -garis vektor yang membentuk sebuah sepeda. Kita lihat, waktu diperbesar dan diseleksi pada bagian roda --> Gambar tetap bening dan terang mengikuti pembesaran.
dan meskipun diperbesar dengan skala 24:1 gambar tetap jelas, itulah keuntungan dan kelebihan gambar vektor...

Namun memang benar, tidak ada yang sempurna di dunia ini...
Gambar tipe vektor tidak begitu realistis, Lain halnya dengan gambar bitmap.

Sekarang tinggal anda yang menentukan mana yang terbaik???
tapi yang paling penting disini adalah anda mengerti perbedaan diantara keduanya ^,^

Semoga Bermanfaat
Terima kasih

Dasar - Dasar Adobe illustrator (Final Mix)

Sebelum melangkah lebih jauh ada baiknya berkenalan dengan dasar-sasar vector dan Adobe illustrator, apa itu vector? berikut penjelasannya:
  • vector: adalah sekumpulan titik dan garis yang saling terhubung yang merupakan perpaduan dari warna2 sehingga membentuk sebuah objek.
    intinya: gambar vector merupakan kumpulan curva-curva warna yang disusun sedemikian rupa, sehingga menghasilkan sebuah bentuk objek.

Software yang biasa digunakan (berbasic vector) untuk membuat vector image:

  • Adobe Illustrator
  • Corel Draw
  • Macromedia Flash
  • 3D max
  • Free Hand, dsb.

Karena saya biasa menggunakan Adobe illustrator CS-2, maka disini akan dijelaskan sedikit pengetahuan saya tentang adobe illustrator CS-2.

Pengenalan Adobe Illustrator CS-2
Sebelum memulai proses kerja pada Adobe Illustrator CS-2, akan lebih baik jika terlebih dahulu mengenal siapa dan bagaimana Adobe Illustrator  itu. Area kerja Adobe Illustrator CS-2 pada dasarnya terdiri atas beberapa komponen antara lain:

tutorial illustrator
Klick Image to Zoom

  • Menu berisi kontrol untuk berbagai fungsi seperti membuat, membuka, menyimpan file, dan sebagainya sesuai dengan menu yang ditampilkan.
  • Stage adalah area persegi empat yang merupakan tempat untuk membuat obyek.
  • Toolbox berisi menu untuk membuat atau menggambar bentuk, memberi pewarnaan, dsb.
  • Palete Color berisi warna-warna yang dipakai dalam pewarnaan objek di dalam Adobe Illustrator CS-2.
  • Objek Properties berisi tentang informasi objek antara lain koordinat objek, rotation, fill, stroke, width, height, dsb.
  • Layer Properties berisi layer-layer dimana objek berada (sama seperti di Potoshop).
  • Pathfinder berfungsi untuk triming objek, menggabungkan 2 objek menjadi 1 bangun, dll.
Mengenal fungsi-fungsi tools dalam illustrator:
tutorial illustrator

  • Selection tool : untuk seleksi objek, memindah, memperbesar ukuran, dsb.
  • Direct Selection tool : untuk editing bentuk bidang yang sudah jadi.
  • Magic wand tool : seleksi warna seperti pada potoshop
  • Lasso tool : seleksi objek seperti pada potoshop
  • Pen tool : membuat bentuk objek (curva) sesuai dengan keinginan kita.
  • Type tool : mengetikkan huruf
  • Line segment tool : menggambar garis
  • Rectangle tool : menggambar bidang persegi, jika ingin memunculkan bentuk bidang yg lain maka press rectangle tool agak lama, maka akan muncul pilihan bentuk bidang yg lain seperti oval, polygon, dsb.
  • Paint brush  tool : menggambar garis secara bebas seperti pada Microsoft paint.
  • Pencil tool : hampir sama dengan paint brush tool.
tutorial illustrator
Tool-tool di atas ini fungsinya hampir sama dengan tool pada potoshop

Demikian penjelasan tentang tool dan dasar illustrator
tutorial illustrator
Setelah ini kita akan membuat project vector image
Terima kasih, Semoga bermanfaat

Rabu, 04 Agustus 2010

Model Warna RGB

Bahan: http://en.wikipedia.org/wiki/RGB_color_model;

http://en.wikipedia.org/wiki/Hex_triplet#Hex_triplet

Model warna RGB adalah model warna berdasarkan konsep penambahan kuat cahaya primer yaitu Red, Green dan Blue.
Dalam suatu ruang yang sama sekali tidak ada cahaya, maka ruangan tersebut adalah gelap total. Tidak ada signal gelombang cahaya yang diserap oleh mata kita atau RGB (0,0,0). Apabila kita menambahkan cahaya merah pada ruangan tersebut, maka ruangan akan berubah warna menjadi merah misalnya RGB (255,0,0), semua benda dalam ruangan tersebut hanya dapat terlihat berwarna merah. Demikian apabila cahaya kita ganti dengan hijau atau biru.

Apabila kita melanjutkan percobaan memberikan 2 macam cahaya primer dalam ruangan tersebut seperti (merah dan hijau), atau (merah dan biru) atau (hijau dan biru), maka ruangan akan berubah warna masing-masing menjadi kuning, atau magenta atau cyan. Warna-warna yang dibentuk oleh kombinasi dua macam cahaya tersebut disebut warna sekunder.

Lihatlah kombinasi warna RGB di bawah ini:



Warna Tersier adalah warna yang hanya dapat terlihat apabila ada tiga cahaya primer, jadi apabila kita non-aktifkan salah satu cahaya, maka benda tersebut berubah warna. Contoh warna tersier seperti abu-abu, putih.

Pada perhitungan dalam program-program komputer model warna direpresentasi dengan nilai komponennya, seperti dalam RGB (r, g, b) masing-masing nilai antara 0 hingga 255 sesuai dengan urusan masing-masing yaitu pertama Red, kedua Green dan ketigha adalah nilai Blue dengan demikian masing-masing komponen ada 256 tingkat. Apabila dikombinasikan maka ada 256 x 256 x 256 atau 16.777.216 kombinasi warna RGB yang dapat dibentuk.
















Dalam mendesign web warna RGB kerapkali direpresentasikan dengan Hex Triplet atau kombinasi 2 pasang bilangan hexadecimal, seperti #FF5D25 artinya Red = FF atau 15*16 + 15 = 255, Green = 5D atau 5*16 + 13 = 93 dan Blue = 25 atau 2*16 + 5 = 37. Jadi RGB (255,93,37)

Color Hexadecimal Color Hexadecimal Color Hexadecimal Color Hexadecimal
aqua #00FFFF green #008000 navy #000080 silver #C0C0C0
black #000000 gray #808080 olive #808000 teal #008080
blue #0000FF lime #00FF00 purple #800080 white #FFFFFF
fuchsia #FF00FF maroon #800000 red #FF0000 yellow #FFFF00


Konsep Model Warna RGB kita jumpai di peralatan seperti:
- Televisi
- Camera Foto
- Pemindai Warna

Diskusi iseng: Apa yang lucu apabila ruang diskotek dibuat terang benderang atau permainan lampu air mancur Monas diadakan pada siang hari....

mendesign web warna RGB kerapkali direpresentasikan dengan Hex Triplet atau kombinasi 2 pasang bilangan hexadecimal, seperti #FF5D25 artinya Red = FF atau 15*16 + 15 = 255, Green = 5D atau 5*16 + 13 = 93 dan Blue = 25 atau 2*16 + 5 = 37. Jadi RGB (255,93,37)

maksud FF dari #FF5D25 artinya Red = FF itu apa sih pak?


Hexcode FF dalam bilangan biner adalah: 1111 1111 = 255 (desimal); karena kode bilangan biner adalah:

Hexcode____Dec____Biner
_0__________0______0000
_1__________1______0001
_2__________2______0010
_3__________3______0011
_4__________4______0100
_5__________5______0101
_6__________6______0110
_7__________7______0111
_8__________8______1000
_9__________9______1001
_A_________10______1010
_B_________11______1011
_C_________12______1100
_D_________13______1101
_E_________14______1110
_F_________15______1111

sedangkan Hex Triplet adalah 3 bilangan Hexadesimal, contohnya #FF5D25, yang terdiri dari 3 bilangan yaitu FF, 5D dan 25.
Untuk pengkodean digital untuk warna RGB masing-masing mempunyai arti: bilangan pertama adalah besarnya komponen cahaya merah, lalu bilangan kedua untuk komponen cahaya hijau dan bilangan ketiga adalah besaran komponen cahaya biru.

Model Warna CMYK



CMYK (adalah kependekan dari cyan, magenta, yellow-kuning, dan black-hitam, dan biasanya juga sering disebut sebagai 'warna proses' atau 'empat warna'). CMYK adalah sebuah model warna berbasis pengurangan sebagian gelombang cahaya (substractive color model) dan yang umum dipergunakan dalam pencetakan berwarna. Istilah CMYK juga biasanya digunakan untuk menjelaskan proses pencetakan itu sendiri. Meskipun terdapat beberapa methode pencetakan yang diterapkan pada percetakan, operator cetak, pembuat mesin cetak dan urutan penintaan, proses pewarnaan umumnya berurutan sesuai dengan singkatannya, yaitu CMYK.

Bagaimana hubungan RGB - CMYK

Secara teori sebenarnya model warna CMY (tanpa Black - Hitam) adalah kebalikan secara langsung dari model warna RGB, dalam hal ini bisa ditarik analogi fungsi konversi sederhana seperti:
fungsi [r,g,b] = cmy2rgb (c,m,y)
r = 1.0 - c;
g = 1.0 - m;

b = 1.0 - y;

Namun faktanya, model warna RGB yang banyak dijumpai dalam metode reproduksi warna alat-alat optik, seperti Camera Digital, Layar Monitor atau Pemindai Warna sangat tergantung pada komponen alat; sedangkan model warna CMY(+K) tergantung pada parameter proses pencetakan, baik teknologi pencetakan maupun bahan-bahan materi cetak dan tinta yang dipergunakan. Kedua model warna tersebut memiliki ketergantungan dalam memvisualkan warna.
Oleh karena itu tidak ada rumusan yang sederhana dalam mengkonversi warna RGB ke CMYK atau kebalikannya. Seperti:
fungsi [r,g,b] = cmyk2rgb (c,m,y,k)
r = 1.0 - (c+k);
g = 1.0 - (m+k);

b = 1.0 - (y+k);

Membandingkan peralatan optik RGB seperti layar monitor dengan hasil cetak CMYK sangatlah sulit (lihat inset: perbandingan model warna RGB dan CMYK), karena baik komponen peralatan maupun pigmen (zat warna) tinta berbeda sekali.
Meskipun tidak ada rumusan yang sederhana untuk mengkonversi RGB ke dalam model warna CMYK namun banyak yang berusaha mengimplementasikan proses konversi tersebut diatas. Proses ini biasa disebut dengan Color Management System.
Dengan memanfaatkan profil warna (color profile) sebuah aplikasi software menghitung dan mengkonversi kedua data model tersebut.

Mengapa CMYK bukan CMY
Teori Penyerapan Warna (Substractive Color Model) mengatakan bahwa Cyan akan meyerap gelombang cahaya Red-Merah, Magenta akan menyerap gelombang cahaya Green-Hijau dan Yellow akan menyerap gelombang cahaya Blue - Biru adalah utopia semata.
Dalam penerapannya mustahil didapatkan tinta-tinta tersebut diatas yang murni dapat menyerap seluruh gelombang cahaya yang seharusnya diserap. Oleh karena itu suka atau tidak suka ada saja sebagian gelombang cahaya yang tidak diinginkan (Unwanted Color) yang masih dipantulkan sehingga membuat kesalahan warna atau sering disebut hue error.
Meskipun ketiga tinta primer tersebut (CMY) masing-masing memantulkan gelombang cahaya warna yang tidak diinginkan, tapi porsinya berbeda, tinta Cyan memantulkan cahaya Merah yang lebih besar dibandingkan dengan cahaya Green - Hijau yang dipantulkan oleh tinta Magenta demikian juga cahaya Biru oleh tinta Yellow.
Setelah kita menyadari bahwa penumpukan ketiga wa
rna CMY masih memantulkan sedikit cahaya.
Oleh karena itu dalam proses pencetakan di
tambahkan warna Black - Hitam sebagai warna ke-4, agar reproduksi warna dapat menghasilkan kepekatan warna hitam yang diinginkan.
Warna black pada model CMYK digunakan untuk menciptakan kontras. Mengapa? Karena pigment cyan tdk bisa menyerap sempurna sinar red begitu pula dengan pigment magenta & yellow tdk bisa menyerap sempurna green & blue. Sehingga bila dicampur CMY tetap tidak akan bisa menyerap sinar RGB secara sempurna. Agar menyerap lebih sempurna, lebih gelap/lebih kontras, perlu pigment lain. Apakah itu? Black adalah kata kuncinya.
(Mungkin karena fungsi inilah warna ke-4 tersebut sering kali disebut Key)

Dibalik Warna Pigment:
Setiap Pigment memiliki No.Index (PI) sbb:
Cyan (C) : PB: 15:0, 15:1, 15:2, 15:3, 15:4, dst. yg umum di gunakan untuk proses color adalah PB 15:3.

Magenta (M) : PR 57:1
Yellow (Y) : PY 13

Black (K) : PK 7

untuk yellow PY 13, dengan shading greenish, sedangkan PY 83 reddish .


SEPUTAR GCR
Teori GCR sebenarnya sudah lama ada baik Dr. Hell, Dainippon Screen maupun Crosfield Scanner.


Prinsipnya adalah mengurangi Chromatic Color (Cyan, Magenta & Yellow)yang membentuk komponen Abu-abu dan digantikan dengan Achromatic Color (blacK), itulah dasar pemikiran GCR atau Grey Component Replacement.
Sebaliknya secara konventional setting separasi diatur secara UCR (Undercolor Removal) seperti yang saya jelaskan di: http://pnjtgp2007prepress.blogspot.com/2008/10/grey-balance.html >> lihatlah kurva Grey Balance nya (itu bukan Kurva Reproduksi)

Separasi Hitam yang dihasilkan biasanya tipis dan disebut sebagai Skeleton Black.

Dengan GCR artinya, kalau kita mempunyai campuran warna CMY, maka kita bisa menggantinya dengan blacK, misalnya saya ada warna coklat dengan komposisi C30% M80% Y100% K40%, dengan teknologi GCR secara manual kita dapat mencoba mengganti komponen Cyan 30%, mengurangi Magenta 14%, mengurangi Yellow 23%, dan untuk itu kita perlu menambah blacK sebanyak 21% menjadi komposisi warna C0% M66% Y77% K61%, maka kedua komposisi warna tersebut adalah mirip.



Kalau kita menghitung jumlah tinta yang terpakai untuk komposisi I adalah: 30% + 80% + 100% + 40% = 250% tinta, sedangkan untuk komposisi II adalah: 0% + 66% + 77% + 61% = 204%, jadi menghemat sekitar 46% tinta. Ini adalah Penggantian komponen Abu-abu yang paling maksimum dapat dilakukan secara manual.

Nilai perubahan dan algoritma perhitungan GCR tersebut sangat tergantung pada warna tinta (color shade) >> Grey Balance, lebih besar tingkat hue error tinta chromatic, maka lebih besar perubahan yang dapat dilakukan. Karena hue error yang besar membuat color gamut menjadi sempit, sehingga kemungkinan besar perubahan dapat dilakukan (karena jumlah redundansi yang cukup tinggi).

Manfaat penggunaan UCR dalam mencetak adalah waktu setting (pengeringan tinta) diharapkan lebih baik, demikian juga penggunaan bedak pengering (spray powder) lebih sedikit.

Namun efektifitas perubahan dengan GCR sangat tergantung pada design yang dipakai, secara teori saya selalu menganjurkan designer untuk mencampur komposisi warna dengan 2 macam warna chromatic yang hue berdekatan ditambah warna achromatic (blacK), apabila hal ini dilakukan, maka GCR tidak ada manfaatnya (relevansinya) sama sekali, karena tidak ada satu warnapun yang dapat diubah dengan pengurangan jumlah persentasi tinta.

Catatan 1: GCR biasanya cocok untuk mencetak di atas kertas koran atau minimal harus menggunakan mesin cetak 4 warna, karena dengan single color printing machine banyak operator cetak yang masih belum terbiasa dengan pengontrolan secara visual mencetak, seperti dibawah ini mencetak 3 warna sebelum cetak blacK. (cobalah membuat perbandingan dengan Gambar di Photoshop yang diolah secara GCR dan UCR)

Catatan 2: Di pengantar Patent no. 5734800 tentang Six-Color Process System tercatat bahwa GCR boleh diaplikasi pada teknik cetak Letterpress hingga GCR 100%; namun tidak demikian dengan Offset Lithography. Karena ketebalan tinta yang relatif tipis, dianjurkan penggunaan GCR hanya sekitar 10% hingga 60% saja.

Chromatic Color = Warna-warna yang memiliki Kejenuhan Warna (saturation) yang tinggi, dalam reproduksi warna kombinasi campurannya adalah penentu Jenis Warna (hue).Untuk separasi CMYK, Chromatic Color = Cyan, Magenta, Yellow dan untuk separasi Pantone Hexachrome, Chromatic Color = Cyan, Magenta, Yellow, Orange dan Green.

Achromatic Color adalah kebalikan dari Chromatic Color, dalam separasi CMYK maupun Pantone Hexachrome warna blacK adalah satu-satunya Acchromatic Color. Achromatic Color tidak memberikan jenis warna (hue) tertentu, penambahannya juga tidak mengubah Jenis Warna yang ada.

Menurut saya GCR untuk Tugas akhir? Tidak Menarik? / Bobot Kegrafikaan Minimum
>> Saya koreksi (Tidak Menarik menjadi Tidak Menarik?) dengan Catatan 2 tersebut diatas.


SEPUTAR GREY BALACE


GREY BALANCE

Latar Belakang Teori: Apabila masing-masing tinta (Cyan, Magenta dan Yellow) dicampur pada takaran/persentasi yang sama maka seharusnya didapat warna yang disebut dengan Abu-abu netral (Grey Neutral ). Namun, masing-masing tinta pada kenyataannya mempunyai kesalahan warna (hue error) yang berbeda-beda, yang paling besar kesalahan nya adalah tinta Cyan (artinya tinta Cyan terlalu banyak gelombang cahaya yang tidak semestinya dimiliki oleh tinta Cyan tersebut, alias ada sebagian cahaya merah yang seharusnya tidak diinginkan); tinta Magenta dan tinta Yellow sebenarnya juga mempunyai hue error, namun tidak lebih besar dibandingkan dengan tinta Cyan.

Jadi apabila masing-masing tinta (Cyan, Magenta dan Yellow) dicampur pada takaran/persentasi yang sama, maka warna yang terjadi bukanlah abu-abu netral (neutral grey), melainkan agak ke-merah-merahan (reddish grey), atau kalau gelap jadi kecoklat-coklatan. Permasalahan ini disebut juga Color Cast/ Unwanted color (warna yang tidak diinginkan), color cast dapat pula berupa warna Blueish (Kebiru-biruan) ataupun Yellowish (kekuning-kuningan).

Untuk mengatasi hal tersebut diatas, kita membuat daftar / kurva pembentukan warna abu-abu atau yang lebih sering disebut Grey Balance. Grey Balance ini dipakai juga untuk menentukan standard ketebalan tinta apabila kita hendak mencetak. Sehingga didapat hasil cetakan yang sesuai dengan warna yang dikehendaki.
Apabila ada ketebalan yang tidak sesuai dengan standard cetak, maka Grey Balance tersebut tidak murni abu-abu (ada color cast)

Untuk separasi artpaper (150 lpi) biasanya kombinasi grey balance yang dipakai adalah:
di highlight point (titik putih) : C5 M3 Y3
di middle tone (nada tengah): C57 M48 Y48 sedangkan
di shadow point (titik paling gelap): C95 M88 Y88 (+ K75)
kombinasi tersebut diatas merupakan nilai patokan, yang harus disesuaikan dengan jenis tinta yang dipergunakan.

Jadi Grey Balance adalah salah satu parameter yang paling menentukan kualitas suatu Cetakan adalah Grey Balance atau keseimbangan warna dari masing-masing warna substractive (Cyan, Magenta, & Yellow). Grey Balance adalah komposisi percampuran warna Cyan, Magenta, Yellow (& Black) yang apabila kita mencetak dengan ketebalan tinta (density) dan warna tinta yang benar diharapkan dapat menghasilkan neutral grey. (biasanya disampingnya diletakan pula grey steps dari Black 10% hingga Black 100% sebagai pembanding)





Perhatikan perbedaan warna yang ada pada ketiga gambar ini :


Green Color Cast


Neutral Image-Gray Balanced

Magenta Color Cast/ Redish

Catatan :
Gray Balance sesuai standard ISO 12647-2 adalah (tambahan) : C25 M19 Y19; C50 M40 Y40; C75 M64 Y64
Jadi kombinasi-kombinasi campuran tersebut diatas akan menghasilkan warna netral; Jadi apabila nilai a* dan b* tidak sama dengan warna kertas, maka ada kesalahan tinta atau proses mencetak.

Warna Proses / Empat Warna

Jadi untuk mereproduksi gambar sehingga dapat dicapai hasil yang (relative) sempurna dibutuhkan sedikitnya 4 Tinta yaitu: Cyan, Magenta, Yellow dan Black. Keempat tinta tersebut disebut Tinta / Warna Proses. Tinta Proses adalah tinta yang dipergunakan untuk mereproduksi warna dengan proses teknik cetak tertentu, seperti offset lithography, rotogravure, letterpress atau sablon. Berbeda dengan Tinta yang hanya digunakan satu lapisan (single layer), karena tinta yang digunakan dapat ditumpuk-tumpuk, maka sifat tinta proses harus memenuhi standard tertentu, seperti spesifikasi warna (dalam model warna CIELab) dan nilai Opaqcity/Transparency. Kesalahan warna dalam penumpukan 2 macam tinta tersebut disebut: Ink Trapping Error (berbeda dengan Layout Trapping Error). (ISO 2846-1 hingga ISO 2846-5 adalah standar yang ditetapkan oleh badan standarisasi international terhadap warna dan nilai transparency dari tinta proses 4 warna CMYK masing-masing untuk proses pencetakan: Sheet-fed and heat-set web offset lithographic printing, Coldset offset lithographic printing, Publication gravure printing, Screen printing dan Flexographic printing.) Teknik separasi saat ini sudah berkembang; Penggunaan 4 tinta proses masih dominan, tapi metode menambah warna tinta cetak berkembang pesat. Teknologi HiFi Color dikembangkan beberapa pihak antara lain Pantone mengembangkan Proses Hexachrome dan Opaltone. Pada teknik Digital Inkjet Printing, perkembangan Warna Proses sedemikian pesatnya, hal ini didorong lantaran karena masalah teknis (kecilnya nozzle dalam printing head), maupun persaingan untuk menghadirkan reproduksi warna yang sempurna (sesuai dengan target pasar yang dituju), ada tinta-tinta seperti: Light Magenta, Light Cyan, Grey, Matt Black, Orange dan Green dll.
Jadi Empat Warna adalah spesifik untuk penyebutan proses pewarnaan dengan menggunakan CMYK.

Singkatan Key untuk K dalam CMYK & Komentar artikel Cyan Magenta Yellow Key di wikipedia bahasa Indonesia

Melihat perkembangan penggunaan warna hitam - Black dalam separasi warna seperti yang dijelaskan diatas memberikan sedikit makna pentingnya warna hitam dalam separasi 4 warna.
Karena tinta Hitam tidak mempunyai nuansa warna (undefined hue), maka warna hitam baik dipakai untuk mencampur separasi gambar tidak mengubah nuansa warna. Tinta Hitam hanya berfungsi untuk memperkeruh warna atau orang awam akan melihat gambar menjadi lebih gelap.
Mungkin karena inilah singkatan K dalam CMYK menjadi Key bukan blacK.

Padahal vendor alat pemindai warna terdahulu seperti Dr. Hell, Crosfield dan Dainippon Screen menggunakan singkatan K (atau kadang kala: Bk) pada panel kontrol warna untuk menghindari salah sebut dengan Blue - Biru.
Bagi saya pengertian Key malah mengaburkan makna dan fungsi warna Hitam pada proses reproduksi warna.
Mengomentari adanya artikel Cyan Magenta Yellow Key di wikipedia bahasa Indonesia saya jadi bingung karena Key tidak ada hubungan dengan warna maupun nama warna yang biasa dikenal (lihat: Daftar Warna di Wikipedia). Tapi apabila kita buka halaman Key pada defi
nisi utama halaman model warna CMYK versi Inggris, maka redirected ke Keyline (dalam ruang lingkup keyline design --> design grafis. Keyline adalah garis-garis yang dipergunakan baik sebagai sketsa awal maupun penegasan akhir dalam merancang design yang biasanya menggunakan warna Hitam). Makna Key menjadi rancu lagi, karena sebelumnya Key yang terjemahan lepas adalah Kunci disebutkan merupakan kunci dari teori separasi warna.
-------------------------------------------------------------
copy artikel tersebut:

Cyan Magenta Yellow Key, atau sering disingkat sebagai CMYK adalah proses pencampuran pigmen yang lazim digunakan percetakan. Tinta process cyan, process magenta, process yellow, process black dicampurkan dengan komposisi tertentu dan akurat sehingga menghasilkan warna tepat seperti yang diinginkan. Bahkan bila suatu saat diperlukan, warna ini dengan mudah bisa dibentuk kembali.

Sistem CMYK juga digunakan oleh banyak printer kelas bawah karena keekonomisannya.

-------------------------------------------------------------
Pigmen

Pigmen adalah zat yang terdapat di permukaan suatu benda sehingga bila disinari dengan cahaya putih sempurna akan memberikan sensasi warna tertentu yang mampu ditangkap mata. Proses secara fisik sangatlah berbeda dengan fluorescent, phosphorescence dan bentuk lain dari luminescence, yang mana materi tersebut dapat mengeluarkan cahaya dengan sendirinya.

Di dalam dunia percetakan, pigmen dibagi dalam tiga pigmen dasar yang mampu meniru pigmen-pigmen lain jika dicampurkan dengan proporsi tepat, yaitu pigmen cyan, magenta, dan kuning. Sebagai tambahan, untuk mendapatkan kedalaman warna ditambahkan pigmen hitam. Misalnya untuk mendapatkan sensasi warna merah, dicampurkan pigmen magenta dan kuning dengan proporsi 1:1.

Berkebalikan dengan teori warna cahaya, di dalam teori pigmen sensasi putih dianggap sebagai absennya seluruh pigmen.

Pigmen dipakai sebagai bahan pewarna cat, tinta, plastik, tekstil, kosmetik, makanan dan lain-lain. Kebanyakan pigmen yang digunakan dalam industri dan dalam seni rupa adalah zat warna kering, yang biasanya berupa serbuk halus. Serbuk ini ditambahkan pada bahan netral atau tak berwarna yang berfungsi sebagai pengikat (binder).


Penulisan Warna dalam Model Warna CMYK
Sebuah warna dalam model warna CMYK dituliskan dalam beberapa bentuk, seperti:
CMYK(c,m,y,k) atau Cc Mm Yy Kk, dimana c,m,y,k masing-masing memiliki domai 0 ~ 100, seperti Schoolbus yellow = CMYK(0,15,95,0) atau C0 M15 Y100 K0 artinya warna Schoolbus Yellow mempunyai komposisi dalam model warna CMYK sebagai berikut:
tinta Magenta 15% ditambah/ditumpuk dengan tinta Yellow 95%.

Perkembangan separasi terakhir simbol c dan m dengan huruf kecil juga dipakai untuk menyebutkan Warna Light Cyan dan Light Magenta. (Jadi mohon dibedakan
antara Nama warna dan Nilai komponen warna)

Warna Primer, Sekunder dan Tersier (definisi yang perlu dikaji ulang, mengingat hitam / black tidak mempunyai fungsi mengubah nilai jenis warna...)
Warna Primer dalam model warna CMYK adalah semua warna yang komposisi hanya terdiri dari 1 macam warna, seperti CMYK (100,0,0,0) atau CMYK (0,50,0,0) atau CMYK (0,0,0,20).
Warna Sekunder dalam model warna CMYK adalah semua warna yang komposisinya menggunakan campuran 2 (dua) macam tinta proses, seperti C
MYK (100,70,0,0), CMYK (0,100,100,0).
Sedangkan Warna Tersier dalam model warna CMYK adalah semua warna yang komposisinya terdiri dari 3 (tiga) macam) warna proses.


Dalam salah satu halaman di situs December Communication Inc. terdapat contoh dan nama warna-warna dalam model warna CMYK, seperti: gainsboro, tomato, cat eye, cool mint etc.

Color Steps
Color Steps adalah kotak-kotak yang disusun sedemikian rupa dan digunakan untuk mengontrol warna pada saat mencetak, biasanya kotak-kotak dengan komposisi 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, 70%, 80%, 90%, 100% untuk masing-masing warna primer dan sekunder (lihat gambar).
Namun kadang kala tidak berurutan dan mencantumkan komposisi (terutama pada) warna primer untuk 1%, 2%, 3%, 4%, 5% serta 95%, 96%,97%, 98% dan 99%. Kotak-kotak seperti ini digunakan khusus untuk mengontrol kemampuan mencetak titik raster dari proses cetak tertentu.
Komposisi 100% disebut Warna Solid.

Color Chips, Color Guide vs. Color Chart


Dalam ilmu grafika "panduan warna" adalah hal yang paling penting untuk disimak, "panduan warna" ini bisa berupa benda yang warnanya perlu kita ikuti dalam mereproduksi warna, mengukur dan membandingkan adalah rutinitas yang tidak dapat dihinfari dalam mereproduksi watna; Namun kadang kala pelanggan bisa hanya menyebut nama/nomor warna yang ada dalam buku panduan warna. Untuk inilah percetakan wajib mengenal buku-buku panduan warna yang sering dipakai oleh pelanggannya.

Color Chips

Color Chips adalah contoh warna dengan tujuan sebagai panduan warna dalam mereproduksi warna; biasanya merupakan sobekan yang diambil dari buku warna atau hasil cetakan.

Pada baris pertama menunjukan contoh warna-warna khusus yang biasanya dapat dibuat oleh pabrik tinta cetak, di Indonesia ada beberapa pabrik tinta cetak antara lain: Cemani Toka, DIC Graphics, Sakata Inx, Inkote, Printcolor, Siegwerk. Sementara ada beberapa perusahaan yang memberikan jasa pencampuran tinta (Color Matching) yang tinta cetak dasarnya dari beberapa pabrik di dalam maupun diluar negeri, seperti: Valspar, Toyo Ink, BenzAce dll.

Penggunaan Warna Khusus ini perlu dicermati, karena trend reproduksi warna (terutama di industri cetak kemas) warna khusus tersebut dapat dikombinasikan penggunaannya dengan warna lain (Bump Plate, Pantone Hexachrome, System Opaltone) à Multi Color Process; Apabila ini terjadi maka pabrik tinta akan menyesuaikan pembuatan tintanya agak transparent, agar tidak terjadi Ink Trapping Error.

3 Color Chips pada baris kedua adalah contoh warna yang dapat dibuat dari kombinasi mencetak dengan 4 warna proses, yaitu Cyan, Magenta, Yellow dan Black; disingkat CMYK. Tinta Cetak warna proses harus memenuhi kriteria tertentu agar kombinasi warnanya dapat ditebak. (Lihat penjelasan tentang warna proses CMYK di: Model Warna CMYK)

Warna kombinasi pada baris ketiga merupakan panduan warna kombinasi dari model warna RGB (Red, Green, Blue), warna-warna ini hanya dapat ditampilkan dengan alat optik seperti layar monitor; Warna-warna RGB sebenarnya tidak pernah dicetak dan tidak diperuntukan untuk panduan mencetak warna. Tetapi apabila sampai ada Color Chip jenis ini dapat dikategorikan sebagai warna khusus.

Sobekan atau bahkan produk asli tidak dapat digunakan sebagai panduan warna karena secara teknis tidak dapat diukur, sehingga sering terjadi perdebatan. Namun karena keterbatasan dari perusahaan pemberi order cetak, pada kenyataannya banyak percetakan yang menerima contoh-contoh warna jenis seperti ini dari pelanggan mereka. Hal ini perlu direduksi dengan memperkenalkan lebih intent penggunaan Digital Proofing.

Untuk memenuhi kebutuhan akan panduan warna dibuatlah buku tentang panduan warna dan yang sering kita jumpai adalah Color Guide (termasuk yang dapat disobek sebagai Color Chips) dan Color Chart.

Color Charts

Agar mendapatkan pengertian yang lebih bermanfaat, saya mendefinisikan Color Chart sebagai buku panduan warna kombinasi dari warna-warna proses (baik model warna CMYK atau Pantone Hexachrome atau sistem warna proses lainnya).

Dalam memproduksi Color Chart beberapa hal perlu diperhatikan, agar Color Chart dapat berhasil guna:


  1. Ketebalan tinta pada saat mencetak harus normal sesuai dengan teknik pencetakannya, jangan terlalu dipaksakan untuk mendapatkan kepekatan warna (color density) atau warna (CIELab) yang ditentukan (biasanya untuk Cetak Offset Lithography sekitar 1μ); apabila tidak tercapai kepekatan / warna yang diharapkan, tanyakan kepada pabrik tinta yang bersangkutan dan mintalah untuk menaikan Kekuatan Warna (Color Strength) tinta tersebut.
  2. Mengatur Nilai Pembesaran Raster (Tone Value Increment / TVI) atau lebih sering disebut Dot Gain hingga sesuai dengan standard cetak, biasanya 22% untuk mencetak Offset Lithography diatas Coated Paper dengan frekuensi raster 150 lpi.
  3. Mencetak dengan variasi dan toleransi seminimal mungkin, total variasi dan toleransi maximum ΔEab = 4 adalah nilai yang ideal untuk produksi Color Chart.
  4. Mengukur parameter warna dengan cara yang benar, pergunakan Spectrophotometer merk X-Rite sudah banyak beredar di Indonesia.
Apabila mengacu pada standard internasional, hendaknya tinta cetak yang dipergunakan sesuai dengan spesifikasi ISO 2846 dan pada saat mencetak Color Charts tersebut sesuai dengan parameter ISO 12647.

Color Guide

Buku panduan warna Color Guide saya definisikan menjadi 2 macam, yang pertama adalah Buku Panduan Warna yang hanya mencantumkan warna dan yang kedua adalah Formula Guide, yaitu buku panduan warna yang mencantumkan dengan formula apa warna dapat dibuat, biasanya buku seperti ini mempunyai 2 bagian, yaitu bagian Warna Dasar (Basic Colors) dan Warna Campuran (Matching Colors).

Color Guides keluaran Pantone adalah yang paling banyak kombinasi serta versinya, untuk cetak kertas saja ada Coated Solid, Uncoated Solid, Metallic Colors dan Pastel Colors.

Membuat Color Guides memerlukan rol penintaan khusus, agar oscillating roll (roll geser yang berfungsi meratakan tinta pada posisi antara Inkkey Zones) tidak membaurkan warna tinta lainnya. Dibawah ini saya illustrasikan mencetak 2 halaman pertama Pantone Solid Coated. Dengan memanfaatkan mesin cetak dua warna, unit cetak cetak pertama mencetak label hitam dan unit cetak kedua mencetak 14 warna sekaligus; Unit cetak kedua ini dimodifikasi baik bak tinta maupun rol tinta nya. Jadi sekali lintasan akan menghasilkan 4 x 2 halaman pertama buku Pantone Solid Coated.


References:

http://www.colorguides.net/

http://opaltone.com/Color-Books-109.cms

http://eci.org/doku.php?id=en:colorstandards:offset

http://www.xrite.com/top_Products.aspx



Percetakan : Proses dan Tahapannya

Percetakan

Percetakan (printing) merupakan teknologi atau seni yang memproduksi salinan dari sebuah image dengan sangat cepat, seperti kata-kata atau gambar-gambar (image) di atas kertas, kain, dan permukaan-permukaan lainnya. Setiap harinya, milyaran bahan cetak diproduksi, termasuk buku,, kalender, buletin, majalah, surat kabar, poster, undangan pernikahan, perangko, kertas dinding, dan bahan kain. Ini karena hasil percetakan dapat dengan cepat mengomunikasikan pemikiran dan informasi ke jutaan orang. Percetakan dianggap sebagai salah satu penemuan yang paling penting dan berpengaruh di dalam sejarah peradaban manusia.

Sejak pertengahan 1400-an hingga awal 1900-an, percetakan merupakan satu-satunya bentuk komunikasi massa. Pendidikan bergantung pada ketersedian bahan bacaan, bahkan setelah penemuan-penemuan seperti radio, televisi, dan gambar bergerak, hasil percetakan tetap menjadi sumber informasi utama bagi dunia. Pada masa sekarang ini, percetakan merupakan industri penting di setiap negara maju di dunia.

Percetakan : Proses dan Tahapannya

Sebelum produk percetakan siap dipasarkan atau diperlihatkan, produk tersebut harus melalui rangkaian tahapan yang termasuk di dalamnya typesetting, persiapan seni gambar (art work preparation), pemasangan gambar (image assembly), platemaking, dan operasi penyelesaian (finishing operation).

Typesetting

Setiap karakter yang dicetak diciptakan dari type. Setiap karakter huruf cetak mewakili satu huruf, nomor, atau tanda baca. Typesetting adalah tahap pertama dalam proses percetakan. Inilah metode di mana kata-kata (disebut salinan) diubah menjadi corak yang sesuai untuk proses percetakan. Kini, kebanyakan huruf cetak disesuaikan oleh komputer. Typesetting modern disebut juga phototypesetting atau komposisi komputer. Komputer telah merevolusi industri typesetting. Dulu, percetakan surat kabar harus mengatur setiap karakter secara manual setiap individu huruf cetak, namun kini seorang reporter bisa mengetik cerita menggunakan keyboard komputer dan mengirimnya secara elektronik ke mesin typesetting otomatis. Mesin-mesin ini mampu mengatur tipe pada kecepatan 10.000 karakter per detik.

Pada phototypestting, setiap karakter typeset diciptakan dari master image dari karakter tersebut. Master image disimpan baik secara fotografis maupun sebagai informasi digital didalam komputer.

Image Assembly (Pengaturan gambar)

Saat huruf cetak telah siap, maka akan dikombinasikan dengan ilustrasi dan kemudian diletakkan pada posisinya di halaman. Proses ini disebut layout. Film dari huruf cetak dikombinasikan dengan film dari ilustrasi didalam proses yang dinamakan stripping. Kombinasi akhir setiap film dari setiap halaman digunakan untuk platemaking.

Satu plat percetakan biasanya mengandung beberapa image dari berbagai halaman berbeda. Film-film final dari semua halaman diposisikan diatas plat sehingga halaman-halaman tersebut berada dalam urutan yang benar setelah lembaran cetakan dicetak dan dilipat. Proses ini disebut sebagai imposition stripping.

Platemaking (Pembuatan Plat)

Setelah semua lembaran salinan typeset dan artwork telah dipasang menjadi layouts, proof dibuat untuk memastikan semua bagian dan warna ada dalam tempat yang sesuai. Proof memberikan kesempatan pada pelanggan untuk menilai adanya kesalahan dan untuk melihat bagaimana hasil cetakan akan terlihat nantinya.

Akhirnya, layout yang dikoreksi (flats) digunakan untuk membuat plat darimana gambar akan dicetak. Plat ini dibuat dari substansi keras seperti logam, karet, atau plastik. Gambar yang hendak dicetak ditransfer ke plat sekaligus dengan cara yang berbeda-beda. Gambar akan tercetak ketika plat yang telah ditintai menekan kertas atau material lain.

Printing Presses (Mesin Pencetak)

Saat plat percetakan telah dibuat, plat akan diletakkan pada mesin yang dinamakan presses yang digunakan untuk mencetak pada kertas atau material lainnya. Mesin percetakan melakukan beberapa fungsi otomatis: Presses menintakan plat; meletakkan kertas atau bahan lain ke plat: mencetak image dengan mentransfer tinta dari plat ke kertas atau material lain; dan melekatkan bagian-bagian yang tercetak. Beberapa presses, disebut perfecting presses, mampu memcetak kedua sisi kertas pada saat yang bersamaan.

Presses bisa merupakan sheet-fed (menggunakan satu sheet pada satu waktu) atau web-fed (menggunakan rol yang berkesambungan, atau web dari kertas atau material lain.) Presses bisa mencetak satu warna atau beberapa warna. Pada percetakan multiwarna, setiap warna membutuhkan unit percetakan yang terpisah, masing-masing memiliki plat dan tintanya sendiri.

Ada banyak macam presses yang berbeda, tetapi semua itu hanya terdiri atas tiga kategori dasar: platen (permukaan rata) presses; presses silinder; dan rotary (gerakan memutar) presses. Dari ketiga kategori ini, rotary presses merupakan jenis yang paling sering digunakan saat ini.

Penyelesaian dan Penjilidan

Setelah material selesai dicetak, material biasanya melewati operasi akhir untuk menjadi produk yang telah selesai. Beberapa cetakan lembaran, seperti poster dan alat tulis menulis kantor, bisa langsung dikirimkan tanpa proses yang lebih lanjut. Bagaimanapun juga, kebanyakan produk yang dicetak dalam ukuran besar terdiri atas beberapa gambar yang terpisah. Setelah lembaran ini dicetak dan dilipat, barang-barang ini disebut sebagai signatures. Signature disusun sesuai urutannya, dibatasai, dan dipotong. Pekerjaan ini memerlukan pelipatan dan memotong signatures, atau membuat macam dari paket khusus dan material periklanan, disebut juga finishing. Prosedur penjahitan, penjepretan (stapling), atau pengeleman halaman ke punggung (untuk membuat material seperti buku, majalah, dan katalog) disebut sebagai binding.

Ada banyak metode percetakan yang berbeda, tetapi hanya tiga yang biasa digunakan secara umum. Perbedaan paling menonjol adalah mengenai tipe dari plat, atau permukaan pencetakan. Mereka menggunakan: percetakan letterpress dilakukan dengan permukaan pencetakan yang timbul; litografi dilakukan dari permukaan pencetakan datar; dan gravure dilakukan dari permukaan pencetakan yang cekung kedalam.

Percetakan Letterpress

Letterpress atau percetakan bergambar timbul merupakan metode percetakan yang paling tua. Contoh sederhana dari prinsip letterpress adalah cap karet. Image yang hendak dicetak diukir pada sebuah karet datar, meninggalkan image yang timbul pada permukaan karet. Ketika tinta diaplikasi pada permukaan timbul ini kemudian ditekankan pada kertas atau material lain maka gambar akan tercetak.

Orang China menggunakan relief method ini ketika mereka menciptakan Diamond Sutra sebagai buku pertama yang pernah dicetak. Ini dilakukan dengan mengukir aksara China pada blok-blok kayu. Tinta kemudian diaplikasi pada karakter yang timbul, kemudian ditekankan dengan tangan pada kertas mulberry-bark. Kebanyakan sejarawan percaya bahwa Johann Gutenberg dari Mainz, Jerman merupakan penemu proses percetakan letterpress seperti yang kita ketahui sekarang. Gutenberg tidak menggunakan metode tangan dan balok. Sekitar tahun 1440, dia menemukan sebuah cetakan tangan untuk membuat potongan individual tipe dari timah leleh dan material lainnya. Cetakan ini mampu membuat banyak salinan identik dari karakter yang sama dan semua karakter dapat dibuat dari cetakan dalam ukuran yang sama yang menjadikannya tersusun dan cocok satu sama lain dengan akurat. Karena potongan logam ini dapat digunakan kembali dan digerakkan maka penemuan ini disebut juga moveable type. Metode percetakan ini disebut sebagai letterpress karena mencetak huruf-huruf individual dalam sekali tekan.

Letterpress Plates (Plat Letterpress)

Kebanyakan plat yang digunakan untuk proses percetakan letterpress sebenarnya merupakan plat duplikat atau copy dari plat original. Plat original terbuat dari lembaran datar dari zinc, magnesium, atau tembaga yang telah dibalut dengan bahan kimia bersensitivitaskan cahaya. Setelah disingkapkan ke cahaya melalui film negatif, bahan kimia akan menghilang pada daerah non-image yang tidak terekspos, meninggalkan image yang hendak dicetak timbul diatas permukaan. Plat-plat original ini disebut engravings yang digunakan untuk menduplikat plat.

Ada empat jenis plat duplikat yang umumnya digunakan untuk percetakan letterpress, yaitu electrotypes, stereotypes, plat plastik, dan plat karet.

Mesin Percetakan Letterpress

Gutenberg menggunakan apa yang disebut platen press untuk mencetak Kitab Sucinya (bibble) yang terkenal. Sebuah platen press memiliki dua permukaan datar: satu yang disebut bed dan yang lainnya disebut platen. Bagian bed yang menahan plat pencetak; bagian platen memegang kertas. Plat kemudian ditintai dengan roller tinta. Kertas atau material lain akan masuk, baik secara manual maupun otomatis ke dalam platen. Platen dan bed membuka dan menutup seperti cangkang kerang.

Sebuah press silinder juga memiliki bed yang datar yang menahan plat pencetak. Silinder yang berputar menyediakan tekanan untuk percetakan. Kertas atau material lain diambil oleh silinder dan ditahan oleh penjepit baja yang disebut grippers. Plat pada bed datar bergerak ke samping untuk bertemu dengan silinder. Kertas kemudian dilalui oleh plat bertinta. Silinder menyelesaikan rotasinya dan melepaskan kertas ketika bed kembali pasi posisi semulanya. Pembuatan presses silinder dengan bed datar tidak lagi dilanjutkan di Amerika Serikat pada tahun 1962 ketika rotary press yang lebih produktif telah banyak digunakan.

Percetakan letterpress kebanyakan kini menggunakan web-fed rotary presses. Sebuah rotary press tidak memiliki bed datar. Melainkan menggunakan sebuah plat silinder dan silinder cetakan (impression cylinder). Plat diukir sesuai plat silinder: Impression cylinder menyediakan tekanan. Kertas atau bahan lain tercetak ketika melewati plat silinder dan impression cylinder yang berputar.

Ketika phototypesetting ditemukan pada akhir 1940-an, penggunaan tipe logam tuang dan percetakan letterpress mulai menurun. Letterpress kini telah digantikan kepopulerannya oleh flexography (percetakan timbul yang menggunakan plat karet atau plastik), litografi, dan gravure.

Litografi (Percetakan Offset)

Dalam litografi, image dicetak dari sebuah permukaan datar daripada permukaan timbul. Proses ini berdasarkan prinsip bahwa minyak (lemak) dan air tidak akan tercampur. Ketika litogrfi ditemukan pada tahun 1798 oleh Aloys Senefelder di Munich, Jerman, itu merupakan perkembangan percetakan yang signifikan dalam lebih dari 350 tahun terakhir. Hari ini kebanyakan barang dicetak dengan litografi daripada metode yang lain.

Litografi berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani: lithos dan graphos, yang sama-sama memiliki arti “menulis di atas batu.” Senefelder menggunakan krayon berminyak atau suatu cairan untuk menggambarkan ilustrasi di atas sebuah batu datar. Dia kemudian membasahi seluruh bagian batu dengan air. Ilustrasi dari minyak tersebut menolak airnya (air tidak mau melengket pada minyak). Akan tetapi, sisa bagian batu yang merupakan daerah non-gambar menerima airnya dan tetap basah. Ketika Senefelder menaruh tinta berbahan dasar minyak di atas batu, tinta tersebut menempel pada gambar yang berasal dari minyak, namun tidak pada daerah yang basah. Ketika dia menekankan sebuah kertas pada batu tersebut, Senefelder mencetak litografi yang pertama.

Plat Litografi

Secara praktis semua plat litografi kini terbuat dari lembaran serbukan aluminium di mana kebanyakan telah diperlakukan khusus untuk membuat daerah non-gambar yang lebih reseptif terhadap air. Plat kemudian dibalut dengan cairan fotosensitif (sensitif terhadap cahaya).

Sebuah fotografi negatif dari area bergambar (salinan typeset dan artwork yang telah ditata) digunakan untuk membuat plat litografi. Cahaya kuat melewati negatif, mengekspos daerah bergambar dari plat. Ketika plat yang terekspos berkembang, cairan fotosensitif mengeras hanya pada daerah image yang terekspos. Ini adalah daerah di mana tinta akan melekat; daerah yang non-gambar yang tidak terekpos akan melunturkan tinta ketika dibasahi.

Mesin Percetakan Litografi

Sepanjang tahun 1800-an, semua percetakan litografi dilakukan pada mesin percetakan dengan bed datar, menggunakan plat batu. Sekitar tahun 1900-an, sebuah rotary press untuk percetakan litografi ditemukan. Plat batu tidak bisa dipasang pada silinder, jadi plat metal digunakan sebagai penggantinya.

Kemajuan terpenting pada percetakan litografi adalah penemuan mesin percetakan offset pada tahun 1906. Pada percetakan offset, image tidak langsung dicetak dari plat ke kertas atau bahan lain, melainkan ditransfer dari plat silinder ke rotating rubber blanket cylinder (Image “dioffset” ke lapisan karet) Ketika silinder impressi mengangkut kertas atau bahan lain, tekanan terjadi pada silinder berlapis karet sehingga image tercetak.

Tipe lain dari mesin percetakan offset yang sering digunakan hari-hari adalah perfecting blanket-to-blanket press. Tipe ini tidak menggunakan silinder impresi, melainkan menggunakan dua silinder berlapis karet. Tekanan yang sempurna ini mencetak kedua sisi dari kertas sekaligus ketika melalui mesin pencetak. Setiap sisi silinder berlapis karet digunakan sebagai silinder impressi untuk sisi yang berlawan. Kertas dicetak pada kedua sisi atau perfected, ketika melewati kedua silinder berlapis karet tersebut.

Prinsip offset memberikan litografi beberapa kelebihan dibandingkan dengan percetakan letterpress. Penggunaan offset memberi litografi kemampuan untuk mencetak pada permukaan kasar di mana metode letterpress tidak dapat melakukannya dengan baik. Karena plat litografi hanya bersentuhan dengan lapisan karet halus maka ia memiliki masa pakai yang lebih panjang.

Percetakan Gravure

Gravure merupakan suatu proses intaglio. Kata intaglio berasal dari bahasa Italia yang memiliki arti mengukir atau memahat. Dalam percetakan gravure, image dicetak dari suatu cekungan, bukan pada permukaan datar atau timbul. Gravure berkembang dari seni memahat, sebuah metode percetakan ilustrasi yang ditemukan di Jerman sekitar tahun 1476.

Sebuah pemahatan dibuat dengan pengukiran gambar dengan tangan ke dalam sebuat plat logam datar menggunakan instrumen-instrumen tajam. Plat dilapis dengan tinta. Ketika pemahat mengelap bersih permukaan plat, sisa tinta akan terjebak pada cekungan gambar tersebut. Kertas kemudian akan ditempelkan pada permukaan plat dan menyerap sisa tinta yang berada di bawah permukaan plat lalu gambar tercetak.

Percetakan Gravure bekerja sesuai dengan prinsip pemahatan. Bagaimanapun juga, plat dibuat secara fotomekanik daripada diukir dengan tangan. Proses tersebut berkembang pada tahun 1878 oleh Karl Klic, seorang seniman Czech yzng menggunakan proses tersebut untuk membuat produksi karya seni berkualitas tinggi berkali-kali.

Plat Gravure dan Silinder

Plat Gravure dan silinder dulunya terbuat dari film positif berkesinambungan dari tatanan halaman yang diekspos ke kertas yang dilapis secara khusus yang dinamakan kertas karbon (carbon tissue). Setelah pemaparan dan pemrosesan, kertas tersebut ditransfer ke sebuah silinder plat tembaga dan image tersebut dietsa ke dalam tembaga menggunakan bahan kimia. Ini merupakan suatu proses yang panjang dan melelahkan serta membutuhkan waktu yang lama. Operator juga benar-benar harus terlatih. Proses seperti ini masih digunakan untuk beberapa cetakan pendek dan khusus. Akan tetapi, dalam kebanyakan kasus, proses ini telah digantikan leh halftone gravure.

Halftone gravure menggunakan positif halftone dan mesin pemahat elektromekanik. Mesin-mesin ini “membaca” image secara elektronik. Kepala pemahat yang dikontrol oleh komputer mengukir sekitar 4000 sel setiap detiknya pada silinder. Laser juga sekarang digunakan untuk mengukir pelapis platik pada silinder gravure.

Mesin Percetakan Gravure

Meskipun beberapa percetakan gravure dilakukan dengan mesin percetakan sheet-fed yang menggunakan plat gravure, kebanyakan dilakukan dengan mesin percetakan rotary web-fed yang menggunakan silinder gravure. Metode ini disebut sebagai rotogravure. Sebuah unit percetakan pada rotogravure terdiri atas silinder gravure, silinder impressi, sebuah sistem tinta, sebuat pengeruk tajam yang disebut doctor blade, dan sebuah pengering tinta. Warna yang hendak dicetak sama jumlahnya dengan unit yang ada di mesin pencetak. Ketika silinder gravure berotasi, silinder akan ditintai oleh roller atau dengan semprotan, dan mengisi daerah image cekung dengan tinta. Doctor blade kemudian mengeruk kelebihan tinta yang ada di permukaan silinder gravure. Silinder impresi memeras kertas atau bahan lain melawan silinder gravure sehingga image tercetak.

Metode Percetakan Lain

Letterpress, litografi, dan gravure telah menjadi metode percetakan tradisional yang paling umum digunakan. Akan tetapi, teknologi dan peralatan yang maju belakangan ini telah memopulerkan beberapa metode lainnya, termasuk Screen Printing, Flexography, Heat Transfer Printing, dan Fotokopi.

Screen Printing

Disebut juga silk screening atau serigraphy, percetakan layar dilakukan dengan layar halus, biasanya terbuat dari kawat atau nilon yang dipasang pada suatu bingkai. Sebuah stensil diproduksi di atas layar untuk menutup area nongambar. (Image yang hendak dicetak dipotong dari atau diekspos ke stensil.) Tinta diperas melalui stensil dan layar ke atas bahan kain, kertas, atau bahan lainnya.

Karena tinta yang digunakan pada screen printing lebih banyak daripada metode percetakan lain, cetakan layar biasanya harus dikeringkan dahulu melalui pengering tinta sebelum dilekatkan. Proses ini sering digunakan dalam pembuatan cetakan seni, stiker decal, kartu ucapan, penyampulan, dan banyak produk lainnya.

Flexography

Flexography adalah suatu bentuk dari percetakan letterpress yang menggunakan web-fed rotary press. Proses ini meggunakan plat karet atau plastik yang elastis dan tinta yang tidak gampang luntur. Flexography merupakan salah satu metode percetakan paling sederhana dan semakin banyak digunakan dalam percetakan surat kabar. Proses ini diperkirakan akan menggantikan metode letterpress dalam percetakan surat kabar.

Heat Transfer Printing

Pada heat transfer printing, image pertama akan dicetak pada kertas dengan tinta khusus. Image yang telah ditintai kemudian ditransfer ke bahan kain atau material lain dengan menggunakan panas dan tekanan (biasanya ada unsur besi yang digunakan). Kaos biasanya dicetak dengan metode heat transfer.

Fotokopi

Fotokopi juga dikenal sebagai xerography. Ini merupakan metode percetakan yang cepat dan ekonomis yang digunakan berbagai bisnis untuk menyalin cepat surat-surat dan memoranda kantoran.

Fotokopi bekerja atas kelistrikan statik. Sebuah silinder rotasi, dibalut dengan selenium (elemen non-logam) dan dipacu dengan listrik statik yang berfungsi sebagai plat pencetak. Selenium tidak terpacu pada area non-gambar ketika terekspos cahaya. Image, cahaya diproyeksikan melalui sebuah lensa kepada silinder, menahan energi. Secara negatif, bubuk hitam yang dipacu tertarik kepada energi positif yang dipacu pada area bergambar pada silinder. Ketika kertas melewati silinder, kertas menerima image dari bubuk hitam. Kertas yang terbubuk lalu dihangatkan untuk membuat bubuk menempel ke kertas. Demikianlah proses dan tahapan percetakan.

Proses Percetakan

Percetakan harus melewati beberapa seri prosedur sebelum siap untuk dipasarkan. Adapun tahapannya sebagai berikut

1. Mengetik (typesetting) bahan teks, atau meletakkan kata-kata (text copy) menjadi ketikkan.

2. Menyiapkan artwork (seperti ilustrasi dan foto) untuk reproduksi.

3. Pengaturan gambar (atau mendesain lay out) dengan mengombinasikan dan menyusun salinan typeset dan artwork.

4. Menyiapkan sebuah permukaan pembawa gambar (plate) di mana kena dipasang ke mesin pencetak, benda ini dapat mentransfer image dari typeset dan artwork ke kertas ataupun bahan lain.

5. Mencetak gambar melalui mesin pencetak/percetakan, di mana tinta dan plat akan dikontakkan pada kertas atau bahan lainnya.

6. Dalam kebanyakan kasus, penyelesaian produk percetakan dengan pemotongan (cutting), pelipatan (folding), dan penjilidan (binding), atau cara lain.

Sejarah Percetakan

Hai jumpa lagi, disini saya bukan hanya memberikan tips'ntrik tentang design grafis tetapi saya juga memberikan info tentang dunia percetakan.

Disini saya mulai tentang sejarah percetakan semoga bermanfaat.

Percetakan memiliki catatan sejarahnya sendiri. Sejarah mencatat informasi tanggal dari gambar dinding gua yang berumur lebih dari 30.000 tahun. Pada 2500 B.C., orang Mesir mengukir hieroglyphics pada batu. Namun, percetakan yang kita ketahui sekarang tidak ditemukan hingga lebih dari sekitar 500 tahun yang lalu.

Orang China membuat banyak penemuan. Mereka menemukan kertas di abad pertama dan moveable type yang terbuat dari tanah liat sekitar abad ke-11. Orang Korea pertama kali membuat moveable type dari perunggu pada pertengahan abad ke-13. Akan tetapi, tidak diketahui adanya hubungan antara penemuan awal orang Asia dan penemuan percetakan di Eropa pada abad ke-15.

Di Eropa, sebelum percetakan ditemukan, semua informasi yang tercatat ditulis dengan tangan. Buku-buku dengan hati-hati disalin oleh ahli tulis (scribes) yang sering menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk menyelesaikan satu jilid buku. Metode ini begitu lambat dan mahal dan hanya sedikit orang yang memilik kesempatan atau kemampuan untuk membaca karya yang telah selesai.

Penemuan Johann Gutenberg pada tahun 1440-an, yaitu moveable type dan mesin percetakan memainkan peran signifikan dalam upaya membawa Eropa keluar dari “masa kegelapan”. Percetakan membuat buku dan bahan bacaan lainnya tersedia bagi masyarakat umum. Orang-orang pun belajar membaca. Ketika mereka mulai terdidik, mereka mulai bertukar pikiran dan informasi yang mengarah pada penemuan-penemuan baru. Eropa memasuki periode perkembangan dan eksplorasi yang dikenal dengan Renaissance.

Hanya ada sedikit perkembangan dalam bidang percetakan antara tahun 1440 hingga mulainya Revolusi Industri sekitar tahun 1800-an. Pada tahun 1800-an, bidang metode percetakan dan kemesinannya mengalami kemajuan pesat. Industrilisasi membuat mungkin ditemukannya mesin cetak bertenaga uap, mesin rotari, mesin pembuat kertas, dan mesin typeset otomatis. Mesin mengurangi biaya produksi bahan cetak dan membuat mereka lebih mudah terjangkau. Pada masa ini, fotografi, photoengraving, dan coal-tar dyces untuk membuat tinta berwarna juga ditemukan.

Perkembangan Percetakan Moderen

Pada akhir tahun 1900-an, kemajuan teknologi dan barang elektronik terus mengubah industri percetakan. Letterpress menjadi kurang penting. Ia dipakai hanya untuk beberapa surat kabar yang besar dan beberapa label dan percetakan bahan pengepak, formulir bisnis, dan percetakan tugas.

Flexography akhirnya menggantikan letterpress dalam percetakan surat kabar. Metode ini akan terus bertumbuh dalam paket komersial dan pemublikasian buku. Reprography menjadi lebih tersedia dan penggunaan luas prosesor kata dan penyaring gambar (scanner) elektronik mengurangi biaya produksi percetakan.

Akhir-akhir ini berkembang metode gravure, menggunakan elektromekanik dan laser pemahat dari silinder berlapis plastik. Pengetsaan elektronbeam dan plat fotosensitif juga menurunkan biaya pembuatan silinder. Sistem elektronik baru membuatnya mungkin untuk membuat silinder percetakan langsung dari salinan asli tanpa film atau operasi manual. Perkembangan ke depan dari tinta berbasis air akan lebih jauh memotong biaya dan menghilangkan masalah polusi. Ini akan menjamin gravure memiliki bagian yang lebih banyak lagi dalam pasar percetakan.

Perkembangan kemajuan teknologi akan terus semakin cepat. Sekarang dunia berada dalam pertengahan ledakan informasi, industri percetakan akan terus maju dan terus merekam dan mendistribusikan informasi kedalam abad yang baru.

Percetakan : Masa Penting dalam Sejarahnya


105 Kertas ditemukan oleh Ts’ai Lun di China
868 Buku tertua yang tercetak dari blok kayu, Diamond Sutra, dicetak di China
1045 Moveable type yang terbuat dari tanah liat ditemukan oleh Pi Sheng di China
1250 Moveable type dari perunggu ditemukan di Korea
1440 Moveable type dan mesin percetakan pertama dari kayu ditemukan di eropa oleh Johann Gutenberg di Jerman
1455 Gutenberg Bible, buku pertama yang dicetak oleh mesin percetakan menggunakan moveable type, dan dipublikasi di Jerman.
1460 Potongan kayu pertama digunakan untuk mengilustrasikan buku di Eropa
1475 The Recuyell of History of Troy, buku pertama yang dicetak dalam bahasa Inggris
1476 Pahatan plat tembaga untuk memproduksi ilustrasi diperkenalkan di Jerman
1487 Mesin percetakan mulai beroperasi di Roma, Venesia, Paris, dan kota-kota lain di Eropa
1539 Percetakan pertama di Amerika Utara mulai beroperasi di Mexico City
1638 Percetakan pertama di koloni Amerika mulai beroperasi di Harvard College di Cambridges, Massachussetts
1798 itrografi ditemukan oleh Aloy Senefelder di Jerman
1811 Mesin percetakan silinder bertenaga uap ditemukan oleh Friedrich Konig di Jerman
1814 Mesin percetakan pertama kali digunakan untuk mencetak surat kabar Times di London
1826 Proses fotografi ditemukan oleh Joseph Nicephore Niepce di Prancis
1829 Proses wet mat menggumakan papier mache untuk menduplikat pembuatan plat dipatenkan oleh Claude Gennouz di Prancis
1837 Proses fotografi disempurnakan oleh Louis Daguerre di Prancis
1846 Mesin percetakan rotari pertama menggunakan dua silinder ditemukan oleh Richard Hoe di Amerika Serikat
1849 Plat stereotype ukir ditemukan Jacob Warms di Prancis
1852 Prses photoengraving dipatenkan oleh Willian Fox Talbot di Inggris
1855 Fotolitografi ditemukan oleh Alphonse Louis Poitevin di Prancis
1865 Mesin percetakan perfecting web-fed rotary ditemukan William Bullock di Amerika Serikat
1872 Proses photoengraving untuk membuat plat letterpress pertama kali digunakan oleh Charles Gillot di Prancis
1878 Ilustrasi pertama yang dicetak dengan metode gravure ditemukan oleh Karl Klic di Austria
1884 Mesin typeset pertama, Linotype, ditemukan oleh Ottmar Mergathaler di Amerika Serikat
1885 Layar halftone untuk fotografi disempurkan oleh Frederick Ives di Amerika Serikat
1887 Mesin monotype typesetting dipatenkan oleh Tolbert Lanston di Amerika Serikat
1893 Proses photoengrave berwarna untuk membuat plat letterpress diperkenalkan di Amerika Serikat
1905 Percetakan offset secara tidak sengaja ditemukan oleh Ira Rubel di Amerika Serikat
1907 Proses layar untuk percetakan dikembangkan oleh Samuel Simon di Inggris
1920-an Teletypesetter (TTS), typseset otomatis menggunakanpita yang berlubang ditemukan
1947 Mesin phototypeset pertama, Footsetter, ditemukan
1948 Reprografi (fokopi) ditemukan
1950 Scanner elekrenik untuk percetakan berwarna ditemukan
1954 Mesin praktis photypeset pertama, Photon, ditemukan
1969 Pengenalan terhadap pembesaran elektronik pada scanner
1970-an Operasi penyederhanaan komputer sebelum percetakan dan pembuatan tipe logam tuang sudah hampir tidak digunakan
1972 Pengenalan electronic dot generation (EDG) pada scanner
1979 Sistem pewarnaan pre-press elektronik, Scitex, ditemukan
1980 Pengenalan autmatic toning system (ATM) sebelum mencetak sebagai pembukti warna sebelum dicetak
1987 Digital Data Exchange Specification (DDES) diadopsi, mengizinkan pertemuan antara scanner dan sistem pre-press
1990-an Percetakan dengan ink-jet dan laserjet yang dikontrol komputer secara luas digunakan, mensaingi kulaitas dari percetakan warna tradisional.