iklan

WELCOME TO MY BLOG

Jumat, 06 Agustus 2010

PostScript vs. PDF


WHY DO WE OFFER TWO PRINTING TECHNOLOGIES? HOW DO THEY DIFFER?
By David Evans
, Translated by Herman Pratomo
Original: http://www.adobe.com/print/features/psvspdf/

Bagi mereka yang bukan ahli dalam bidang ‘Digital Imaging’, perbedaan antara Adobe® PostScript® dan PDF (Portable Document Format) boleh jadi membingungkan. Faktanya, anda pernah mendengar bahwa PDF sebagai pengganti PostScript. Pernahkah Anda berpikir mengapa?

Marilah kita mulai dengan sebuah definisi tentang apa PostScript dan PDF pada tingkat yang paling dasar. We'll take a quasi-technical look at both, after which the mists will vanish and all will be revealed.

Masalah bahasa
Pertama, mari kita lihat PostScript. PostScript adalah sebuah bahasa pemrograman yang didedikasikan untuk mendeskripsikan sebuah halaman, lanyaknya bahasa pemrograman yang dipergunakan teknisi software membuat aplikasi. Faktanya, Anda dapat melakukan percobaan sendiri. Buatlah sebuah dokumen baru dalam Adobe Illustrator® dan gambarlah sebuah kotak. Simpanlah file tersebut, lalu bukalah file tersebut dengan aplikasi text. Anda akan melihat sebuah ‘program’ yang ditulis dengan menggunakan bahasa PostScript yang mendefinisaikan dimensi sebuah halaman serta menggambar sebuah kotak di halaman tersebut.

Pada masa awal dari PostScript, menggambar hanya dapat dilakukan dengan mengetik perintah-perintah PostScript secara manual. Pemrogram akan membaca PostScript Language Reference Manual, dan mengetik ‘code’ PostScript dalam sebuah file text, lalu mengirim file tersebut ke printer untuk diproses. Illustrator adalah ‘Antarmuka Grafis PostScript’ yang pertama, mirip dengan apa yang dilakukan Microsoft® Windows 1.0 merupakan ‘Antarmuka Grafis’pada sistem operasi MS/DOS. Designer dapat menggambar dengan menggunakan perangkat grafis yang ada di dalam Illustrator yang mana secara otomatis menuliskan program PostScriptnya.

Jadi, kita telah mengkokohkan PostScript adalah sebuah bahasa pemrograman seperi BASIC, Fortran atau C++. Tapi tidak seperti bahasa-bahasa pemrograman lainnya, PostScript adalah sebuah bahasa pemrograman yang dirancang untuk mengerjakan satu hal: Mendeskripsikan secara sangat akurat seperti apa sebuah halaman ditampilkan.

Setiap bahasa pemrograman membutuhkan sebuat pengolah untuk menjalankan perintah. Pengolah untuk PostScript adalah kombinasi Software dan Hardware yang umumnya ada dalam sebuah printer, dan kita namakan ini sebuah RIP – Raster Image Processor atau Pengolah Gambar Raster. Sebuah RIP mengolah perintah-perintah PostScript dan menjadikannya rangkaian titik-titik pada halaman. Jadi sebuah Printer PostScript adalah alat yang membaca, mengintepretasikan program PostScript serta memproduksi informasi grafis yang tercetak di kertas, film atau plate.

Disamping itu, AGM - Adobe Graphics Model yang digunakan dalam InDesign® - juga adalah sebuah RIP: Yang pada dasarnya mengolah instruksi-instruksi PostScript dan “mencetak” hasilnya pada layar sebagai pengganti kertas. Dibandingkan dengan aplikasi tata letak halaman dari pembuat lainnya, yang menggunakan tampilan secara bitmap, Illustrator adalah sebuah cara menampilkan halaman yang lebih akurat-cetak. Ini benar-benar WYSIWYG yang nyata (apa yang ditampilkan adalah sama dengan apa yang dicetak). Benar-benar hebat.

Jadi, jika PostScript adalah bahasa pemrograman dan sebuah RIP adalah apa yang mengolah bahasa ini, kemudian apakah sebuah Encapsulated PostScript File, atau EPS itu? Sederhananya, sebuah file EPS adalah sebuah program PostScript, yang disimpan sebagai sebuah file tunggal yang menyertakan sebuah tampilan resolusi rendah “encapsulated” didalamnya, membuat beberapa program dapat menampilkannya pada layar. InDesign tidak memerlukan tampilan awal ini, karena ia memiliki sebuah RIP terpasang didalamnya, yang membuatnya dapat membuka file-file PostScript (dan Illustrator) secara langsung.

Satu cara untuk menggunakan PostScript adalah dengan membuat file itu dan menyimpannya dalam cakram sebagai satu file PostScript tunggal yang dapat dikirim ke sebuah Percetakan. Cara lainnya adalah dengan membuat file EPS sebagai cara untuk menyimpan dan menyebarluaskan grafik. Di sinilah banyak orang yang kebingungan. Ketika anda mendengar orang mengatakan bahwa PDF adalah “penganti” PostScript, apa yang mereka mungkin maksudkan adalah bahwa PDF adalah sebuah pengganti untuk file PostScript dan EPS yang tersimpan. PDF bukan sebuah pengganti untuk bahasa PostScript atau pengolah PostScript yang ada didalam printer, imagesetter, dan platesetter.

Sebuah format yang lebih pintar
Dengan pemahaman yang mantap tentang PostScript, mari kita melihat PDF. PDF hanya sebuah format file, seperti halnya file EPS atau Ilustrator. PDF adalah sebuah format file, seperti EPS atau file Illustrator pada umumnya. Hanya saja PDF dibentuk lebih komplek dari sekedar bahasa PostScript yang hanya untuk mendeskripsikan sebuah halaman. PDF bisa lebih dari itu, selain untuk menggambarkan bagaimana sebuah halaman ditampilkan PDF juga memuat bagaimana halaman tersebut berkelakuan dan informasi apa saja yang terkandung dalam file tersebut. Jadi PDF adalah sebuah format file yang lebih pintar dari EPS. Sebuah file PDF dapat memuat jenis huruf, gambar, instruksi cetak, kata kunci untuk proses mencari dan pemberian index, tiket pekerjaan, hiperlink interaktif, gambar bergerak dan sebagainya.

Sebuah keuntungan tambahan
Jadi mengapa PDF lebih unggul dibandingkan dengan PostScript? Sebuah file PDF sebenarnya adalah sebuah file PostScript yang sudah diinterpretasikan melalui sebuah RIP dan dibuat menjadi obyek-obyek yang didefinisikan secara jelas. Obyek-obyek tersebut dapat ditampilan pada semua orang di atas layar berupa obyek visual bukan huruf-huruf perintah seperti sebuah program aplikasi. Karena file-file PDF sudah diinterpretasikan oleh RIP, mereka lebih bisa dipercaya daripada sebuah file EPS atau .PS ketika dicetak. Sebagai tambahan, karena file EPS dan file .PS mudah dikonversi ke PDF serta ditampilkan di layar, percetakan dapat memanfaatkan file PDF ini untuk mengontrol dan memeriksa setelah proses interpretasi dan sebelum dikirim ke alat cetak mereka. Disini mereka dapat melihat kesalahan yang terjadi tanpa harus menghamburkan kertas, film atau plate. Ini juga akan menghemat waktu kerja bagi mereka yang menjalankan usaha jasa percetakan dan hasilnya adalah file yang bisa mencetak lebih cepat, lebih akurat dan lebih sedikit kesalahan.

Untuk mencetak file PDF, alat printer masih perlu untuk me-render obyek-obyek PDF kedalam halaman dan sebuah printer PostScript dapat melakukan perenderan yang paling dapat diandalkan. Beberapa Printer PostScript tidak hanya mengenal PostScript melainkan juga file PDF original. Dan beberapa Printer PostScript menggunakan sebuah teknologi yang kami namakan Extreme yang dapat mengkonversi semua pekerjaan kedalam file PDF sebelum pencetakan. (Agfa, Creo, Heidelberg dan Scitex telah mengumumkan sistem alur kerja pencetakannya berdasarkan Extreme.)

Adobe Acrobat® - perangkat kami untuk memperkaya dan memodifikasi sebuah file PDF – bisa mencetak ke printer non-PostScript dengan menginterpretasikan file PDF kedalam bahasa printer tersebut. Namun bahasa-bahasa ini tidak dapat diandalkan ataupun seakurat Adobe PostScript yang sesungguhnya, jadi para ahli menggunakan sebuah pengolah PostScript untuk mendapatkan hasil yang terbaik.

Memuaskan hingga akhir
Inti artikel ini adalah bahwa PDF itu dapat dipergunakan sebagai pengganti format file untuk EPS dan PDF itu dapat dipergunakan sebagai format pengantaran untuk mengirim publikasi utuh ke percetakan. PDF juga cocok untuk soft-proofing, penyebarluasan di internet dan pengarsipan file, karena PDF mengandung semua instruksi secara utuh di dalamnya. Tapi untuk mencetak PDF yang terbaik adalah menggunakan peralatan dengan kemampuan Adobe PostScript sesungguhan untuk menhasilkan Output mutu yang terbaik.

Sebagian besar percetakan adalah “Ramah-PDF” akan memiliki aplikasi pihak-ketiga yang mengambil file-file PDF, menyusun, memberikan ‘Trapping’, menguji-coba lalu mengirim mereka ke RIP. Karena perangkat-perangkat tersebut menjadi semakin canggih, lebih banyak orang memberikan file-file PDF mereka untuk pencetakan. Tentu saja aplikasi Adobe masih mendukung file-file EPS yang sudah menjadi bagian dari sistem alur kerja penerbitan yang profesional, tetapi untuk selanjutnya anda dapat memikirkan untuk mengexport file-file publikasi anda kedalam format PDF. Apabila anda bekerja dengan percetakan anda dan merencakan dengan benar maka anda akan mendapatkan hasil yang lebih baik.

David Evans adalah Manajer Produk untuk Adobe InDesign. Sebelum bergabung dengan Adobe, David bekerja sebagai seorang perancang lepas/paruh waktu dan konsultan sistem cetak.

Terjemahan atas Kosa kata bahasa Inggris:


Archiving – Perarsipan (penyimpanan)

Code (programming code) – Perintah

Consultant – Konsultan

Covert – Konversi

Delivery – Pengantaran

Design – Rancang

Designer – Perancang

Digital Imaging – Pencitraan Digital

Disk – Cakram

Display – Tampil

Distribution - Penyebarluasan

Engineer – Teknisi

Font – Jenis Huruf

Freelance – Lepas/Paruh Waktu

Graphical – Grafis

Hyperlink – Hiperlink

Image – Gambar, Citra

Imagesetter – Imagesetter (alat pencitraan di atas materi film atau kertas peka cahaya)

Impose – Menyusun (proses penyusunan beberapa halaman menjadi satu halaman besar untuk proses pencetakan, pelipatan dan penjilidan)

Indexing – Proses pemberian index

Interactive – Interaktif

Interface – Antarmuka

Internet – Internet

Job tickets – Tiket pekerjaan (dalam proses produksi percetakan)

Movie – Gambar Bergerak

Native – Original

Non-PostScript Printer – Printer non-PostScript (bukan PostScript Printer)

Output – Output (semua yang dihasilkan oleh perlengkapan keluaran dalam konfigurasi jejaring komputer)

Page – Halaman

PDF-friendly – Ramah PDF

Platesetter – Platesetter (alat pencitraan di atas materi plate cetak)

PostScript Printer – Printer (yang dapat menerima file PostScrip untuk dicetak) PostScript

Preflight – Uji-coba (yang dilakukan sebelum proses pencitraan, biasanya menggunakan alat Tampilan Monitor)

Preview – Tampilan

Print – Cetak

Print Service Provider, Service Bureau – Percetakan (yang juga melakukan proses pracetak)

Printing – Pencetakan

Printing Plate – Plate Cetak

Printing Technology – Teknologi Cetak

Processor – Pengolah

Product Manager – Manajer Produk

Programming Language – Bahasa Pemrograman

Publication – Publikasi (file untuk pencetakan)

Publishing – Penerbitan

Quasi-technical – Semi-teknis

Registration – Registration (ketepan posisi cetak dalam mencetak multi warna)

Render – Pender (proses mengkonversi file PDF atau PostScript menjadi instruksi-instruksi pencetakan)

Screen (monitor) – Layar

Searching – Proses mencari

Soft-Proofing – Soft-Proofing (proses uji cetak dengan tampilan di layar monitor)

Third-party aplication – Aplikasi Pihak-ketiga (aplikasi yang dikembangkan oleh pihak ketiga, dalam hal PDF/PostScript adalah pengembang Software selain Adobe Systems)

Trap – Trapping (proses melebihkan atau mengecilkan komposes grafis untuk menghindari masalah Registrasi pencetakan)

Workflow – Sistem (alur kerja)

WYSIWYG – what you see is what you get


Merk Dagang / Produk:


Adobe Acrobat / Acrobat

Adobe Extreme / Extreme

Adobe Illustrator / Illustrator

Adobe InDesign / InDesign

Adobe PostScript / PostScript / PS

Encapsulated PostScript / EPS

Microsoft Disk Operating System / MSDOS

Microsoft Windows / Windows

Portable Document Format / PDF

(Bahasa Pemrograman) BASIC, Fortran, C++

(Produsen) Adobe, Agfa, Creo, Heidelberg, Microsoft, Scitex


Standard di Industri Grafika - Perbedaan antara ISO 2846 dan ISO 12647

Oleh: Herman Pratomo

Di sebuah percetakan terjadi perdebatan antara manajer produksi dengan manajer mutu tentang nilai L*a*b* dari tinta yang dipakai, nilai L*a*b* tersebut mengacu pada 2 standard ISO yang berbeda, yaitu ISO 2846 dan ISO 12647;

Karena masing-masing bersikukuh pada pendapatnya, maka saya mencoba memberikan penjelasan berupa tulisan di bawah ini.


ISO 2846

ISO 2846 adalah standard internasional untuk warna dan nilai transparansi tinta proses, saat ini sudah dirilis bagian ISO 2846 seperti tertera di bawah ini:

ISO

Judul

ISO 2846-1:2006

Teknologi Grafika

Warna dan Transparansi dari tinta cetak proses empat warna

– Bagian 1: Cetak Datar Offset (Lithography) Lembaran dan Cetak Datar Offset (Lithography) Gulungan Sistem Heat-set

ISO 2846-2:2007

Teknologi Grafika

Warna dan Transparansi dari tinta cetak proses empat warna

– Bagian 2: Cetak Datar Offset Sistem Coldset

ISO 2846-3:2002

Teknologi Grafika

Warna dan Transparansi dari tinta cetak proses empat warna

– Bagian 3: Cetak Dalam (Rotogravure) untuk Penerbitan

ISO 2846-4:2000

Teknologi Grafika

Warna dan Transparansi dari tinta cetak proses empat warna

– Bagian 4: Cetak Saring (Screen)

ISO 2846-5:2005

Teknologi Grafika

Warna dan Transparansi dari tinta cetak proses empat warna

– Bagian 5: Cetak Flexography


ISO 2846-1 mendefinisikan warna (L*a*b*), nilai transparansi (T) serta ketebalan tinta pada saat pencetakan yang diharuskan untuk tinta proses CMYK yang biasa dipergunakan pada pencetakan dengan metode cetak offset datar (lithography) lembaran dan cetak offset datar gulungan dengan sistem heat-set, sedangkan ISO 2846-2 hal yang sama untuk tinta proses CMYK yang biasa dipergunakan pada pencetakan koran.


Nilai colorimetric sesuai dengan ISO 2846-1 adalah:

Tinta

Nilai CIELAB

Transparansi

L*

a*

b*

Toleransi ΔEab*

T

Yellow

91

-5

95

4

0,12

Magenta

50

76

-3

5

0,08

Cyan

57

-39

-46

3

0,20

Black

18

1

-1

-

-

Kondisi Pengukuran warna adalah: iluminant D50, 2° observer, 0°/45° geometry

Toleransi untuk Tinta Black: Δa* ±1,5; Δb* ±3,0; L*≤18,0

ISO 12647

ISO 12647 adalah standard internasional untuk warna hasil proses cetak dan saat ini sudah dirilis bagian ISO 12647 seperti tertera di bawah ini:

ISO

Judul

ISO 12647-1:2004

Teknologi Grafika

Kontrol proses untuk produksi titik raster separasi warna, uji cetak dan cetak

– Bagian 1: Parameter dan Metode Pengukuran

ISO 12647-2:2004

Teknologi Grafika

Kontrol proses untuk produksi titik raster separasi warna, uji cetak dan cetak

– Bagian 2: Proses Cetak Datar Offset (Offset lithography processes)

ISO 12647-2:2004/

Amd 1:2007

Teknologi Grafika

Kontrol proses untuk produksi titik raster separasi warna, uji cetak dan cetak

– Bagian 2: Proses Cetak Datar Offset AMENDMENT 1

ISO 12647-3:2005

Teknologi Grafika

Kontrol proses untuk produksi titik raster separasi warna, uji cetak dan cetak

– Bagian 3: Proses Cetak Datar Offset diatas kertas koran sistem dingin (Coldset offset lithography on newsprint)

ISO 12647-4:2005

Teknologi Grafika

Kontrol proses untuk produksi titik raster separasi warna, uji cetak dan cetak

– Bagian 4: Proses Cetak Dalam untuk Penerbitan (Publication gravure printing)

ISO 12647-5:2001

Teknologi Grafika

Kontrol proses untuk produksi titik raster separasi warna, uji cetak dan cetak

– Bagian 5: Proses Cetak Saring

ISO 12647-6:2006

Teknologi Grafika

Kontrol proses untuk produksi titik raster separasi warna, uji cetak dan cetak

– Bagian 6: Proses Cetak Flexografi

ISO 12647-7:2007

Teknologi Grafika

Kontrol proses untuk produksi titik raster separasi warna, uji cetak dan cetak

– Bagian 7: Proses Uji Cetak Langsung dari Data Digital


ISO 12647 mempunyai 7 bagian, bagian pertama yaitu ISO 12647-1 memuat parameter pencetakan dan metode pengukuran yang diterapkan dalam pembuatan ISO 12647 tersebut; Sedang 6 bagian lainnya merupakan target warna cetak proses CMYK untuk berbagai teknik cetak dan aplikasi tertentu, seperti cetak datar offset lembaran, cetak datar offset gulungan untuk cetak Koran, cetak dalam rotogravure untuk aplikasi penerbitan, cetak saring, cetak flexografi dan uji cetak langsung dari data digital.


Pada bagian kedua yaitu ISO 12647-2 mendefinisikan target warna yang dihasilkan dengan metode cetak datar offset lembaran atau cetak datar offset gulungan dengan system heat-set. Untuk cetak lembaran dipergunakan 3 macam kertas, masing-masing kertas berlapis mengkilap (glossy coated paper), kertas berlapis tidak mengkilap (matt coated paper) dan kertas tidak berlapis (uncoated paper) putih dan agak kuning, sedangkan untuk cetak datar offset gulungan system heat-set menggunakan kertas berlapis mengkilap ringan (Glossy LWC) yang sering dijumpai pada majalah-majalah luar negeri.


Parameter kertas yang dimaksud di atas adalah sebagai berikut:

No

Jenis Kertas

L*

a*

b*

Gloss

%

Gramatur

g/m2

1

Kertas Berlapis Mengkilap

glossy coated wood-free paper

93

0

-3

65

115

2

Kertas Berlapis Tidak Mengkilap

matt coated wood-free paper

92

0

-3

38

115

3

Kertas Berlapis Mengkilap Ringan

glossy LWC paper

87

-1

3

55

65

4

Kertas Tak Berlapis

uncoated white paper

92

0

-3

6

115

5

Kertas Tak Berlapis

uncoated slightly yellowish paper

88

0

6

6

115


Toleransi:

±3

±2

±2

±5


Kondisi Pengukuran warna adalah: iluminant D50, 2° observer, 0°/45° geometry, black backing; pengukuran sesuai dengan ISO 8254-1:2003 metode TAPPI


Dan target warna hasil cetak sesuai dengan ISO 12647-2/Amd1 adalah:


Jenis Kertas

Warna

No 1 & No. 2

No 3

No 4

No 5


L*

a*

b*

L*

a*

b*

L*

a*

b*

L*

a*

b*

Black

K

16

0

0

20

0

0

31

1

1

31

1

2

Cyan

C

54

-36

-49

55

-36

-44

58

-25

-43

59

-27

-36

Magenta

M

46

72

-5

46

70

-3

54

58

-2

52

57

2

Yellow

Y

87

-6

90

84

-5

88

86

-4

75

86

-3

77

Merah

M+Y

46

67

47

45

62

39

52

53

25

51

55

34

Hijau

C+Y

49

-68

24

47

-60

25

53

-42

13

49

-44

16

Biru

C+M

24

16

-45

24

18

-41

37

8

-30

33

12

-29

Kondisi Pengukuran warna adalah:iluminant D50, 2° observer, 0°/45° geometry, black backing


Black

Cyan

Magenta

Yellow

Toleransi Deviasi

5

5

5

5

Toleransi Variasi

4

4*

4*

5*

*) kontribusi perbedaan warna harus dibawah 2,5

Posisi ISO 2846 dan ISO 12647

Sekarang sudah jelas bahwa nilai L*a*b* yang tertera di ISO 2846-1 adalah standard warna tinta cetak yang diatas materi kertas khusus untuk pengetesan, jadi hanya ada satu nilai L*a*b*; sedangkan ISO 12647-2 adalah standard warna hasil cetakan pada proses cetak dan materi cetak yang spesifikasinya sudah ditentukan, jadi untuk bagian 2 dari ISO 12647 saja sedikitnya ada 4 macam nilai L*a*b* untuk berbagai kertas yang dispesifikasikan, yaitu jenis glossy coated wood-free, matt coated wood-free, glossy LWC dan uncoated white.

Coba kita perhatikan satu contoh: Tinta warna Yellow yang mempunyai nilai 91/-5/95 sesuai dengan ISO 2846-1 setelah dicetak warnanya akan menjadi berbagai tampilan warna Yellow yang berbeda sesuai dengan metode dan kertas cetaknya, seperti: 88/-6/90; 84/-4/88; 86/-4/75 dan 86/-3/77.

Sesuai dengan standarisasi, secara otomatis penggunaan tinta cetak yang sudah sesuai dengan ISO 2846-1 akan menghasilkan hasil cetakan yang sesuai dengan ISO 12647-2 apabila parameter cetak lainnya memenuhi standard yang disyaratkan; demikian perlakuan yang sama terhadap ISO 2846-2 dengan ISO 12647-3.


Konklusi

Kedua standard ISO 2846 dan ISO 12647 memang berkaitan, namun penggunaan dan peruntukannya berbeda.

Standard ISO 2846 dipergunakan dalam industri manufatur tinta cetak dan atau yang belum lazim dipergunakan pada bagian penerimaan tinta cetak di percetakan (yang perlu diperhatikan

pengukuran hanya dapat dilakukan setelah 24 jam tinta diuji-cetak).

Standard ISO 12647 dipergunakan dalam proses produksi pencetakan, ini meliputi antara lain: kurva reproduksi film separasi, plate cetak, penambahan nilai titik raster dan reproduksi warna dengan tinta proses CMYK (dalam menerapkan ISO 12647 sebaiknya tinta proses yang dipergunakan sudah memenuhi ISO 2846 terlebih dahulu, sehingga pengontrolan parameter cetak lainnya lebih mudah diatasi)

Mengacu pada penerapan standard tersebut oleh fabrikan-fabrikan tinta cetak internasional

maupun percetakan-percetakan besar, sebagai pekerja grafika di Indonesia, saya menganjurkan agar kedua ISO tersebut dapat benar-benar diterapkan di Indonesia.

Penerapan standard internasional semacam ISO akan bermanfaat bagi percetakan sendiri, karena secara tidak langsung kompetensi operator cetak lebih baik dan nilai-nilai yang ada dalam standard tersebut dapat kita gunakan sebagai bagian dari kontrol produksi kita.


Tambahan Analogis perbandingan antara ISO 2846-2 dengan ISO 12647-3:

Tinta

ISO 2846-2

ISO 12647-3

Nilai CIELAB

Transparansi

Nilai CIELAB

L*

a*

b*

ΔEab*

T

L*

a*

b*

ΔEab*

Black

40

2

-4

-

-

36

1

4

4

Cyan

59

-25

-27

3

0,3

57

-23

-27

5

Magenta

55

50

0

5

0,2

54

44

-2

5

Yellow

81

-3

62

4

0,1

78

-3

58

5

Merah(M+Y)






52

41

25


Hijau(C+Y)






53

-34

17


Biru (C+M)






41

7

-22


Kondisi Pengukuran

warna adalah: iluminant D50, 2° observer, 0°/45° geometry, black backing

Toleransi untuk Tinta Black: Δa* ±1,0; Δb* ±2,0; L*≤40,0

Kolom ΔEab* pada ISO 12647 mengidentifikasikan nilai Toleransi pada Variasi Cetak


Diagram dibawah ini merupakan Perbandingan nilai chroma (a *dan b*) hasil cetak sesuai dengan ISO 12647-2 dan 12647-3



References: